Rabu, 23 Mei 2018

HAK PENYANDANG DISABILITAS DALAM DUNIA PENDIDIKAN INDONESIA

Hello Readers ^^

 

     Pernah gak sih mikir bagaimana cara seseorang yang memiliki keterbatasan fisik untuk belajar? Pernah ga mikir bahwa apa mereka sudah mendapatkan hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan di Indonesia? Yang pasti cara mereka belajar tentu lebih unik dengan cara pelajar normal. Tapi apa kalian pernah melihat orang yang tuli, buta, bisu, cacat fisik berada di dalam lingkungan sekolah mu, atau di lingkungan kampus yang kamu bangga-banggakan itu? Tentunya sangat jarang bukan. Lantas, apa mereka sebenarnya tidak mampu untuk membayar biaya pendidikan? Kalau mampu, kenapa mereka tidak bisa berkuliah atau bersekolah.
     Sebelum kita membahas hubungan penyandang disabilitas dengan sistem pendidikan di Indonesia, mari kita kenali dahulu bahwa siapa sesungguhnya penyandang disabilitas itu. Sebenarnya peraturan mengenai penyandang disabilitas telah diatur dalam UU No 8 Tahun 2016. Dari definisi yang terdapat di peraturan tersebut dapat disimpulkan bahwa penyandang disabilitas adalah orang-orang yang memiliki “keterbatasan” dalam tubuhnya sehingga berpengaruh terhadap aktivitas kesehariannya. Sehingga pada dasarnya setiap penyandang disabilitas membutuhkan special treatment untuk menjalankan kesehariannya. Secara umum, biasanya masyarakat menyebut dengan istilah ORANG CACAT. Padahal mereka tidak demikian, mereka sama seperti kita hanya bedanya memiliki keterbatasan dalam tubuh mereka, sehingga mereka memiliki kemampuan yang sama seperti kita untuk dapat melakukan sesuatu, tapi dengan cara yang berbeda, sehingga mereka lebih dikenal dengan istilah people with diffrent abilities yang lambat laun mulai disingkat menjadi difable people, maka MARI KITA SEPAKAT BAHWA MULAI DETIK INI, KITA MEMANGGIL MEREKA BUKAN ORANG CACAT, TETAPI PENYANDANG DISABILITAS, atau dalam bahasa inggris biasa disebut PwD yang artinya People with Disabilities.
     Sekarang, mari kita hubungkan antara penyandang disabilitas dengan dunia pendidikan yang ada di Indonesia. Bagi sebagian masyarakat, pendidikan bagi penyandang disabilitas mungkin masih merupakan sebuah fenomena yang baru. Saat ini kelompok penyandang disabilitas harus berjuang keras untuk mendapatkan hak untuk memperoleh pendidikan. Padahal hak-hak mereka sudah diatur dalam undang-undang, namun masih saja banya institusi lembaga pendidikan kurang memperhatikan hak tersebut.
     Ada beberapa instrumen yang digunakan sekolah atau kampus untuk “menyeleksi” penyandang disabilitas. Seperti pada brosur penerimaan mahasiswa atau siswa baru yang biasanya terdapat syarat “sehat secara jasmani dan rohani” atau “tidak cacat fisik dan mental” atau dalam dunia perkuliahan biasanya ada syarat seperti “calon mahasiswa dari kalangan penyandang disabilitas untuk memilih jurusan yang telah ditentukan oleh perguruan tinggi”. Hal ini  sangat membuat penyandang disabilitas sangat tidak leluasa dalam memilih jurusan yang dia gemari. Dengan cara seperti itulah sekolah atau kampus menyeleksi calon mahasiswanya. Padahal secara tidak langsung bahwa sekolah dan kampus telah merebut hak mereka untuk belajar.
     Jika kita sedikit melihat lebih dalam mengapa sekolah atau kampus menolak penyandang disabilitas dikarenakan bahwa sekolah dan kampus tersebut “belum mampu” untuk memberikan pendidikan yang “spesial”. Hal ini tentu berhubungan dengan fasilitas kampus atau sekolah dan dengan dosen atau pengajar yang belum memenuhi kebutuhan penyandang disabilitas dalam dunia pendidikan.
     Meskipun kasus ini terkadang diakhiri dengan permintaan maaf dari perguruan tinggi, tetap saja masih menimbulkan pertanyaan: Jika tidak ada protes dan demonstrasi dari penyandang disabilitas, apakah peraturan dan kebijakan tersebut akan dianulir? Di sini terlihat jelas bahwa perubahan peraturan atau kebijakan bukan suatu political will dari pemangku kepentingan di perguruan tinggi, melainkan karena adanya desakan dari bawah (penyandang disabilitas). Oleh karena itu, sebagai wujud kepedulian dan keseriusan serta komitmen pendidikan tinggi terhadap penyandang disabilitas, diperlukan kebijakan yang serius untuk memberikan ruang gerak yang lebih luas bagi mereka untuk dapat mengakses pendidikan tinggi.Sebenarnya sudah sangat banyak kebijakan yang dibuat dimulai dari kebijakan internasional seperti Declaration of Human Rights (1989), Convention on the Rights of the Child (1989), Life Long Education-Education for All (Bangkok, 1991), Dakkar Statement (1990), Standard Rules on the Equalization of Opportunities for Person with Disabilities (Resolusi PBB Nomor 48/46 Tahun 1993), Salamanca Statement (1994), The Four Pillars of Education (Unesco, 1997), ASEAN Pacific Decade for Disabled (Biwako, 2002), Deklarasi Bukit Tinggi (2005), dan The Convention on The Human Rights of Person with Disabilities (Resolusi PBB Nomor 61/106 Tahun 2006). 
      Sedangkan kebijakan yang tertuang dalam peraturan nasional tercantum dalam UUD 1945 (amandemen) Pasal 131 Ayat 1 dan 2, Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1991 tentang Pendidikan Luar Biasa, UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Pasal 3, Pasal 5, Pasal 32, Pasal 51, Pasal 52, dan Pasal 53. UU Nomor 8 Tahun 2016. Hingga peraturan yang berada di dalam negeri sendiri seperti UUD 1945 (amandemen) Pasal 131 Ayat 1 dan 2, Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1991 tentang Pendidikan Luar Biasa, UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Pasal 3, Pasal 5, Pasal 32, Pasal 51, Pasal 52, dan Pasal 53. UU Nomor 4 Tahun 1997 Pasal 7 tentang Penyandang Cacat. 
     Namun sayangnya, kebijakan yang ada hanya seolah-olah kebijakan, belum adanya tindakan hukum apabila sebuah institusi tidak memberikan hak dalam pendidikan kepada penyandang disabilitas. Hal ini dibuktikan bahwa banyak sekolah-sekolah yang berada di kota yang terkenal dan institusi yang “katanya” menghasilkan lulusan terbaik dan memiliki akreditasi “top” namun masih saja tidak memperhatikan hak-hak tersebut.
     Simpulan tulisan ini adalah bahwa pendidikan merupakan suatu hak dan kewajiban bagi seluruh manusia, tanpa terkecuali, termasuk bagi penyandang disabilitas. Karena pada hakikatnya manusia adalah makhluk “belajar”, ia lahir tanpa memiliki pengetahuan, sikap dan kecakapan apa pun kemudian tumbuh dan berkembang menjadi “mengetahui”, “mengenal” dan menguasai banyak hal. Proses ini terjadi melalui suatu “pembelajaran” yang menggunakan potensi dan kapasitas diri yang mereka miliki.
     Penyandang disabilitas tunanetra, tunarungu, tunawicara, tunadaksa, dan tunagrahita, merupakan bagian dari umat manusia dan penduduk Indonesia yang mempunyai hak dan kewajiban dasar yang sama untuk belajar dan menuntut ilmu seperti halnya manusia-manusia yang lain, dan tidak ada larangan bagi mereka untuk belajar bersama-sama dan beraktivitas bersama-sama dengan manusia yang lain. Akan tetapi dalam realitanya kesempatan dan fasilitas bagi penyandang disabilitas kurang mendapatkan perhatian. Demikian juga dengan kebijakan-kebijakan yang di keluarkan oleh perguruan tinggi kurang sensitif terhadap disabilitas. 
      Untuk itu, kita sebagai generasi perubahan, mari membantu meringankan beban mereka, kita harus yakin bahwa kita bisa memberikan sedikit uluran tangan kepada penyandang disabilitas. Jangan kita biarkan mereka tidak mendapatkan hak dalam pendidikan, jangan biarkan mereka dibiarkan, ditelantarkan, buktikan bahwa kita adalah manusia yang memiliki belas kasihan bukan hanya melakukan bacotan dalam sebuah khayalan, buktikan dengan sebuah tindakan bukan hanya ucapan dalam ketidakmampuan.

Source :
Imron, A., 1996, Kebijakan Pendidikan di Indonesia: Proses, Produk, dan Masa Depannya, Jakarta: Bumi Aksara.
Undang – undang RI No 8 Tahun 2016
Soleh, Akhmad. Islam dan Penyandang Disabilitas : Telaah Hak Aksesibilitas Penyandang Disabilitas Dalam Sistem Pendidikan di Indonesia. Yogyakarta.

Senin, 21 Mei 2018

Kekar

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Geologi struktur adalah suatu cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang bentuk-bentuk arsitektur kerak bumi beserta gejala - gejala geologi yang menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan bentuk (deformasi) pada batuan yang membentuk kerak bumi. Dalam geologi struktur terdapat metode statistik. Metode statistik merupakan suatu metode yang diterapkan untuk mendapatkaan kisaran harga rata-rata atau harga maksimum dari sejumlah data acak. Dengan menggunakan metode ini, maka dapat diketahui kencederungan-kecenderungan bentuk pola ataupun kedudukan umum dari jenis struktur yang sedang dianalisa. Data acak yang digunakan adalah biasanya dari analisis kekar pada analisis struktur di lapangan yang kemudian ditentukan arah umumnya dengan diagram kipas dan analisis kekar dengan proyeksi stereografis.
Kekar adalah bidang rekahan yang tidak memperlihatkan pergeseran berarti atau bagian masanya masih saling berhubungan/bergabung. Kekar dapat terbentuk secara primer, seperti kekar kolom dan kekar melembar pada batuan beku maupun secara sekunder, seperti kekar tektonik. Hasil pengolahan tersebut berupa diagram kipas untuk menentukan arah umum yang selanjutnya dianalisis menggunakan proyeksi stereografis.
Analisis kekar memiliki beberapa manfaat khususnya bagi dunia pertambangan. Beberapa diantaranya yaitu pada tahap eksplorasi untuk menganalisis kekar yang mempengaruhi proses mineralisasi, dalam bidang geoteknik dimana jika suatu daerah memiliki banyak kekar maka daerah tersebut rawan karena banyaknya retakan dan menyebabkan struktur tersebut labil dan mudah bergeser apabila ada gaya yang bekerja, dan lain-lain.
1.2  Tujuan
Adapun tujuan praktikum pada percobaan tentang kekar adalah:
1.     Mengetahui definisi kekar dan mekanisme pembentukannya.
2.     Menganalisis struktur kekar, baik secara statistik (diagram kipas) maupun secara stereografis.
BAB II
DASAR TEORI

Kekar adalah struktur rekahan pada batuan yang tidak memperlihatkan pergeseran. Hampir tidak ada suatu singkapan di muka bumi ini yang tidak memperlihatkan gejala rekahan. Kekar bukan merupakan gejala yang kebetulan, tetapi merupakan hasil kekandasan/kegagalan batuan akibat tegasan (stress). Karena itu kekar akan mempunyai sifat-sifat yang menuruti hukum-hukum fisika. Struktur kekar merupakan gejala yang paling umum dijumpai dan banyak dipelajari secara luas tetapi merupakan struktur yang paling sukar untuk dianalisa. 
Berdasarkan cara terbentuknya kekar dapat diklasifikasikan menjadi : 
1.     Kekar  tektonik, misalnya kekar gerus (shear joint)
2.     Kekar tarik (tension joint). - Kekar non tektonik, misalnya mudcrack, columnar joint dan sheeting joint
Struktur ini banyak dipelajari karena sangat berhubungan erat dengan masalah- masalah :
a.     Geologi teknik 
b.     Geologi minyak bumi, terutama masalah cadangan dan produksi.
c.     Geologi untuk pertambangan, baik dalam hal sistim penambangannya  maupun pengerahan terhadap bentuk-bentuk mineralisasi dan lain-lain.
Kekar non-tektonik, yaitu kekar, yang terbentuk bukan karena gaya tektonik, misalnya kekar akibat pendinginan (cooling joint) pada batuan beku, misalnya kekar kolom (columnar joints) atau dapat juga terbentuk akibat pembebanan, misalnya “sheeting joints”. Struktur kekar dipelajari dengan cara statistik, mengukur dan mengelompokkan nya dalam bentuk diagram roset (diagram bunga) atau diagram kontur (Ahmad, 2011).
Struktur kekar dapat dikelompokkan berdasarkan sifat dan karakter retakan/rekahan serta arah gaya yang bekerja pada batuan tersebut. Kekar yang umumnya dijumpai pada batuan adalah sebagai berikut:
  1. Shear Joint (Kekar Gerus) adalah retakan / rekahan yang membentuk pola saling berpotongan membentuk sudut lancip dengan arah gaya utama. Kekar jenis shear joint umumnya bersifat tertutup.
  2. Tension Joint adalah retakan/rekahan yang berpola sejajar dengan arah gaya utama, Umumnya bentuk rekahan bersifat terbuka.
  3. Extension Joint (Release Joint) adalah retakan/rekahan yang berpola tegak lurus dengan arah gaya utama dan bentuk rekahan umumnya terbuka (Ahmad, 2011).
Metode  statistik adalah metode yang gunakan untuk mendapatkan kisaran harga rata – rata atau harga maksimum dari sejumlah data acak atau satu jenis struktur, dengan memakai metode ini dapat diketahui kecenderungan – kecenderungan, bentuk pola maupun kedudukan umum dari jenis struktur yang sedang dianalisa. Adapun macam – macam jenis statistik, yaitu :
·       Statistik Induktif adalah statistik yang digunakan untuk membuat berbagai inferensi terhadap sekumpulan data yang berasal dari sampel.
·       Statistik Deduktif adalah statistik yang digunakan untuk membuat berbagai informasi terhadap sekumpulan data yang berasal dari berbagai sampel.
·       Statistik Parametrik adalah alat bantu analisis data dengan berdasar atas asumsi – asumsi, bahwa sampelnya harus berdistribusi normal yang diambil secara random dan datanya berskala interval atau rasio.
·       Statistik Non Parametrik adalah alat bantu analisis data yang tidak harus memenuhi persyaratan seperti statistik parametric (Thya, 2013).
Pada metode statistik parameter – parameter yang digunakan ada dua (2) macam yaitu :
a.   Metode stratistik dengan satu parameter.
         Yang dimaksud adalah data – data yang akan dibuat diagramnya hanya terdiri dari satu unsur pengukuran, misalkan data dari kekar vertikal, arah liniasi struktur sedimen, arah liniasi frakmen breksi sesar, arah kelurusan.
Jenis diagram ini adalah :                   
·       Diagram kipas
Tujuan dari diagram ini adalah untuk mengetahui arah kelurusan umum dari usur-unsur struktur yang datanya hanya satu unsur pengukuran.
·       Diagram roset
Tujuan dari diagram ini adalah untuk mengetahui arah-arah kelurusan umum dari data dengan satu parameter, yaitu Trend.
·       Histogram
Tujuan diagram ini adalah untuk mengetahui arah kelurusan umu dari unsur-unsur suatu struktur (Noor, 2009).
b.   Metode statistik dengan dua parameter.
Metode ini diterapkan untuk data struktur yang memiliki dua unsur pengukuran seperti pada struktur garis yang menggunakan bearing dan plunge serta pada struktur bidang menggunakan strike dan dip. Jenis diagram yang digunakan adalah diagram kontur. Tujuan dari diagram ini adalah untuk analisa struktur geologi yang dimaksudkan untuk mendapatkan harga kerapatan maksimum dari data yang di analisa, sehingga dapat di ketahui orientasi atau kedudukan umum struktur yang di analisa (Ruhimat, M. dkk. 2006).
Cara pembuatan diagram kontur :
-       Tahap 1 : tahap pengeplotan data.
-       Tahap 2 : tahap penghitungan kerapatan data.
-       Tahap 3 : tahap countering titik – titk kerapatan.
Harga rata-rata atau arah umum dari sejumlah data acak satu jenis struktur adalah interval data yang memiliki jumlah terbesar, kemudian diambil nilai tengah dari interval tersebut, dijumlahkan dengan batas bawah dari kelas interval, maka akan diperoleh arah umum shear joint nya. Untuk mengoptimalkan hasil yang dicapai dalam analisa struktur-struktur geologi, maka perlu digunakan suatu metode yang dapat menafsirkan tentang kinematika dan mekanisme pembentukan yang dianalisa, sehingga penafsirannya mendekati hal yang sebenarnya. Metode statistik merupakan cara untuk menentukan harga rata-rata atau harga maksimum dari sejumlah harga acak satu jenis struktur. Sehingga kemudian dapat diketahui kecenderungan-kecenderungan bentuk pola ataupun kedudukan umum dari suatu struktur (Fauzan, 2015).
Analisis struktur geologi terhadap daerah penelitian dilakukan melalui tiga tahap penelitian. Tahap pertama merupakan pendekatan tidak langsung, yaitu dengan cara menginterpretasikan gejala struktur di lapangan dengan menarik kelurusan pada peta topografi dan citra satelit. Tahap kedua adalah melakukan pengamatan secara langsung di lapangan dan pengambilan data lapangan berupa kedudukan lapisan, bidang sesar, kekar gerus (shear fracture), slickensides dan breksiasi. Tahap yang ketiga adalah melakukan analisis lanjut terhadap data-data lapangan yang ada untuk mengetahui mekanisme struktur yang terjadi di daerah penelitian. Hasil pengolahan tersebut berupa diagram roset, arah dan penunjaman sumbu lipatan serta bidang lipatan, arah tegasan utama, dan kinematika pergerakan sesar (Sapiie, 2009).
Stereonet merupakan suatu graf pada belahan bola bagian bawah (lower hemisphere) dimana berbagai jenis data geologi dapat diplotkan,akan tetapi ada pula yang memakai bagian atasnya (upper hemisphere). Selain digunakan untuk geostruktur, stereonet dapat juga digunakan pada cabang ilmu geologi lain. Proyeksi stereonet meliputi plotting data 3D (bidang atau garis) kedalam permukaan 2D (stereonet) dimana permukaan tersebut dapat dimanipulasi dan diinterpretasi. Untuk melakukan analisis dan pemecahan masalah geologi struktur, dengan metode ini akan digunakan stereo net (jarring stereo) yang terdiri dari :
·       Wulfnet (jaring sama sudut atau equiangular net)
·       Schimidt net (jaring sama luas atau equal area net)
·       Polar equal area net
·       Kalsbeek counting net (jaring penghitung kalsbeek)
Beberapa terminologi yang harus dikenal dalam proyeksi stereonet pada jejaring sama luas(equal area) Schmidt.
1.    North Pole (N)           : Kutub Utara pada stereonet
2.    South pole (S)            : Kutub selatan pada stereonet
3.    Great circle                : Lingkaran besar atau garis bujur pada stereonet
4.    Small circlr                : Lingkaran kecil atau garis lintang pada stereonet
5.    Equator                       : Garis tengah pada stereonet
6.    Primitive                    : Bagian terluar dari stereonet
Grid pada stereonet dibagi menjadi dua segmen derajat,satu segmen derajat tebal berskala 10° dan satu segmen derajat tipis berskala 2°. Jurus dan azimuth dibaca disekitar bagian primitiv dan kemiringan dibaca disepanjang bagian equator
Berdasarkan definisi dari struktur geologi kekar, sesar, dan lipatan telah menunjukkan bahwa adanya keterkaitan satu dengan yang lain. Misalnya sesar, sesar ialah kekar yang mengalami pergeseran pada bidangnya, dan biasanya sesar terbentuk pada daerah lipatan (sinklin maupun antiklin).
Analisi lipatan digunakan untuk menganalisa bentuk lipatan,axial plane,hinge line dan unsur-unsur lipatan lainnya yang terdapat didaerah penelitian. Analisis ini dapat dilakukan dengan menggunakan dua metode yaitu metode diagramβ dan metode diagramkontur serta stereonet (Asikin, 1978).




BAB III
METODE PENELITIAN

3.1  Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan pada praktikum kali ini yaitu :
1.   Busur derajat
2.   Jangka
3.   Penggaris
4.   Alat tulis lengkap
5.   Kertas Kalkir
6.   Stereonet Polar Equal Area Net
7.   Stereonet Wulff Net
8.   Clipboard
9.   Paku payung

3.2  Skema Kerja
3.2.1.  Analisis Kekar Dengan Diagram Kipas
1.     Diisi table tabulasi dari data yamg telah ada
2.     Ditentukan jari – jari diagram setengah lingkaran (0° – 180°) dengan cara yaitu jumlah data terbanyak sebagai jari – jari maksimum
3.     Dibagi sisi paling luar dari  busur sesuai dengan pembagian arahnya, dari situ ditarik garis – garis kearah pusat busur
4.     Dimasukan hasil perhitunagan presentase kedalam gambar sehingga didapatkan analisa arah umum kekar gerusnya
3.2.2.     Analisis Kekar dengan Proyeksi Streografi
1.     Mengeplot arah umum yang telah dilakukan pada diagram kontur kedalam wulfnet
2.     Dikembalikan arah umum keduanya pada posisi N
3.     Titik perpotongna kedunya adalah ϭ1 (shear joint 1 dan 2)
4.     Ϭ2 dari 90° merupakan bidang bantu
5.     Dibagian bidang bantu menjadi dua bagian, amka sudut baginya itu adalah ϭ1, ϭ3
6.     Menghubungkan  ϭ2 dan ϭ3 yang merupakan kedudukan release joint
7.     Menghubungkan ϭ2 dan ϭ1 yang merupakn kedudukan extension joint
8.     Menarik garis dari α1, ϭ2 dan ϭ3 ketitik tengah
9.     Memberikan warna sesuai kebutuhan
3.2.3.     Pembuatan Kubus pada Arah Longsoran
1.     Membuat garis 5 cm ke atas, bawah, kiri, dan kanan dari titik pusat
2.     Membuat persegi dari sisi yang dibuat sepanjang 5 cm
3.     Membuat bentuk bangun kubus
4.     Memasukkan analisis kekar
5.     Mencocokan kedalam jenis longsoran sesuai analisis kekar dari kubus



















BAB IV
DATA DAN HASIL
4.1 Data
4.1.1 Data Praktikum
No.
N....E/....
1
32/70
2
20/68
3
15/50
4
33/58
5
34/67
6
28/71
7
20/67
8
32/50
9
37/60
10
10/50
11
73/57
12
70/59
13
64/61
14
70/70
15
80/75
16
70/59
17
76/58
18
65/66
19
81/40
20
67/30





























BAB V
PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini, dalam mata kuliah geologi struktur yaitu tentang kekar. Pada praktikum kali ini secara ringkas praktikan akan membahas mengenai apa itu kekar lalu menganalisisnya. Dari data kekar yang diperoleh dalam menentukan sebuah arah umum pada suatu struktur dapat dengan satu parameter dan dua parameter. Untuk diagram kontur sendiri dalam pengaplikasiannya dalam metode statistik dengan dua parameter langsung memplot data pada Polar Equal Area Net dan mengurung titik tersebut dalam segi enam menggunakan Kalsbeek Counting Net. Pada praktikum kali ini ada 2 jenis data kekar yaitu pada saat praktikum dan data berikutnya yaitu shear dan gash fracture. Secara proyeksi stereografis digunakan Wulff Net dan setelah dibuat proyeksinya ditentukan koordinatnya dengan Polar Equal Area Net.  
 Pertama praktikan dijelaskan mengenai kekar secara teori, bahwa kekar merupakan struktur rekahan pada batuan dimana tidak ada atau relatif tanpa mengalami pergeseran pada bidang rekahannya. Kekar dapat terjadi pada semua jenis batuan, dengan ukuran yang hanya beberapa millimeter (kekar mikro) hingga ratusan kilometer (kekar mayor) sedangkan yang berukuran beberapa meter disebut dengan kekar minor. Kekar dapat terjadi akibat proses tektonik maupun perlapukan juga perubahan temperature yang signifikan. Kekar merupakan jenis struktur batuan dalam bentuk bidang pecah. Karena sifat bidang ini memisahkan batuan menjadi bagian-bagian terpisah maka struktur kekar merupakan jalan atau rongga kesarangan batuan untuk dilalui cairan dari luar beserta materi lain seperti air, gas dan unsur-unsur lain yang menyertainya.
Setelah penjelasan dari asisten tersebut, maka praktikan diberikan 20 data kekar ketika praktikum dan diberi tambahan data kekar tugas untuk dikerjakan dirumah. Data-data yang telah diolah dalam tabel tabulasi langsung di proses ke dalam pembuatan diagram kipas. Seperti yang telah diketahui pada diagram kipas dibuat dengan membuat diagram kipas sesuai dengan tata cara yag telah ada, kemudian ditentukan kedudukan umum shear jointnya berupa pada shear 1 dan shear 2 nya, lalu ditentukan kedudukan tegasan –tegasan untuk mempermudah bila sudut yang diperoleh antara kedua kedudukan umum merupakan sudut tumpul, maka sudut baginya merupakan arah dari ϭ3, dan apabila sudut antara dua kedudukan umum merupakan sudut lancip maka baginya merupakan arah dari ϭ1, setelah dilakukan proses analisis dengan menggunakan diagram kipas dilakukan dan dilanjutkan dengan melakukan proses penganalisisan kekar dengan proyeksi stereografis dengan mencari arah kedudukan umum kekar (shear joint) dengan menggunakan diagram kontur , lalu diplot kedudukan umumnyadalam wulf net dengan meletakkan perpotongan kedua garis pada eastwest nya untuk mebuat bidang bantunya dihitung sebesar 90˚ dari titik potong ke arah perpotongan garis shear joint adalah nilai ϭ2 , perpotongan – perpotongan antara bidang bantu dan kedua shear joint apabila Apabila membentuk sudut lancip, maka sudut bagiannya adalah ϭ1, dan ϭ3 dibuat 90˚ dari ϭ1 pada bidang bantu ( dimana bidang bantu tetap pada kedudukan NS). Apabila membentuk sudut tumpul, maka sudut bagiannya adalah ϭ3, dabn ϭ1 dibuat 90˚ dari ϭ3 pada bidang bantu (dimana bidang bantu tetap pada kedudukan NS), lalu dibuat kedudukan extension joint dengan menarik garis melalui ϭ1 dan ϭ2, setelah itu dibuat kedudukan release joint dengan menarik garis melalui ϭ3 dan ϭ2, dan proses akhir ditentukan nilai ϭ1, ϭ2, ϭ3, serta extension joint dan release joint dengan menggunakan polar equal area net.  Pada dasarnya, antara diagram kipas dengan stereografis memiliki tujuan yang sama sama karena berdasarkan teori yang diterima memilki tujuan yang sama untuk menganalisis data secara melalui pendeskripsian atau pengganmbaran yang dapat mempermudah untuk penentuan kekar nya.
Pada data praktikum, didapat hasil sebagai berikut. Untuk diagram kipas didapat dua arah umum dominan yaitu N 33  E mengarah ke timur laut dan N 68  E mengarah ke timur laut. Untuk hasil analisis kekar dengan stereografis didapat hasilnya untuk ϭ1 = N 49  E / 90 , ϭ2 = N 138  E / 24 , dan ϭ3 = N 320  E / 53 .
Pada data praktikum tugas pertama, didapat hasil sebagai berikut. Untuk diagram kipas, diagram roset, dan histogram didapat dua arah umum dominan yang sama yaitu N 328  E mengarah ke barat laut dan N 8  E mengarah ke timur laut. Pada data praktikum tugas kedua, didapat hasil sebagai berikut. Untuk diagram kipas, diagram roset, dan histogram didapat dua arah umum dominan yang sama yaitu N 58  E mengarah ke timur laut. Setelah dianalisis mengapa diagram kipas dan diagram rosetnya baik koordinat dan arah umumnya sama karena data kekar yang didapat merupakan data yang didapat merupakan data yang langsung tercantum pada diagram tersebut contohnya sudut yang dimiliki diagram kipas yaitu 270 hingga 90 . Untuk diagram kontur diberi 70 data baru. Arah umum yang didapat yaitu shear 1 = N 82  E / 71  dan shear 2 = N 160  E / 80 . Untuk hasil analisis kekar dengan stereografis didapat hasilnya untuk ϭ1 = N 97  E / 90 , ϭ2 = N 190  E / 15 , dan ϭ3 = N 6  E / 63 .
Untuk analisis longsoran model kekar dan tegasan kubus nya, secara umum dikenal dua jenis longsoran, yaitu longsoran bidang dan longsoran baji. Untuk dari hasil praktikum dan data tambahan didapat jenis longsoran baji. Longsoran baji dapat terjadi pada suatu batuan jika lebih dari satu bidang lemah yang bebas dan saling berpotongan. Sudut perpotongan antara bidang lemah tersebut lebih besar dari sudut geser dalam batuannya. Bidang lemah ini dapat berupa bidang sesar, rekahan (joint) maupun bidang perlapisan. Cara longsoran baji dapat melalui satu atau beberapa bidang lemahnya maupun melalui garis perpotongan kedua bidang lemahnya. 
Di dunia pertambangan mempelajari kekar memiliki banyak manfaat. Kekar dapat meningkatkan porositas batuan sehingga kandungan fluida di dalamnya menjadi bertambah. Karena itu, keberadaan kekar sangat diperlukan pada pembentukan batuan reservoir minyak bumi atau air tanah pada sumur dalam atau dangkal. Pada hal ini, yang lebih berpengaruh adalah sistem kekarnya, dimana sistem kekar tersebut bisa mempengaruhi proses - proses mineralisasi yang terjadi, yang merupakan saluran dan tempat berkumpulnya mineral-mineral berharga, seperti misalnya endapan hydrothermal (Au, Cu, Pb, Zn). Selain itu manfaat dalam mempelajari metode statistik dalam dunia pertambangan adalah dapat sebagai penentu dari arah liniasi struktur sedimen, arah liniasi frakmen breksi sesar, serta arah kelurusan gawir.
Manfaat lain dari analisis kekar yaitu untuk menentukan arah cadangan dominan dari suatu pengamatan lapangan pada struktur geologi yang diketahui sebagai penunjuk arah cadangan pada tahap eksplorasil. Oleh karena itu, metode statistik adalah salah satu metode yang digunakan dalam metode penelitian analisis struktur geologi.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1    Kesimpulan
Adapun pada praktikum kali ini dapat ditarik kesimpulan yaitu :  
1.     Kekar adalah struktur retakan/rekahan terbentuk pada batuan akibat suatu gaya yang bekerja pada batuan tersebut dan belum mengalami pergeseran.
2.     Untuk analisis data kekar digunakan terlebih dahulu ditentukan arah umumnya menggunakan diagram kipas lalu di plot kekar nya pada wulff net. Setelah itu ditentukan koordinatnya menggunakan polar equal area net.

6.2    Saran
Adapun saran yang dapat diberikan oleh praktikan yaitu penyampaian materi praktikum oleh asisten sebaiknya lebih jelas dan terperinci lagi agar dapat dengan mudah dimengerti dan dipahami oleh praktikan.dan sebaiknya didalam laboratorium baik asisten maupun praktikan dapat mencairkan suasana agar dapat lebih mengakrabkan diri lagi




DAFTAR PUSTAKA

Ahmad. 2011. Kaidah Ilmu Struktur Geologi. Bandung: AMPI.
Asikin, Sukendar. 1978. Dasar-Dasar Geologi Struktur. Bandung : Departemen Teknik Geologi ITB.
Fauzan. 2015. Ilmu Geologi Struktu Pada Metode Statistik. Jakarta: Graha Indo.
Noor, D. (2009). Pengantar Geologi. Bogor: Graha Ilmu.
Sapiie, Benyamin, dkk. 2009. Geologi Dasar. Bandung: ITB.
Thya. 2013. Metode Statistik. Jakarta: Aneka Pustaka.